Relasi Kaya dan Pintar
Dahulu kala, orang pintar sering diidentikkan dengan orang kaya. Salah satu seniman terkenal yang bernama Leonardo Da Vinci telah menjadikan Eropa berjaya. Ayahnya merupakan notaris yang kaya raya dan kakeknya adalah seorang juragan tanah yang memiliki perpustakaan pribadi.
Maka wajar apabila dia tumbuh menjadi anak yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata. Pada masa kecilnya, dia tinggal di rumah ibunya dan mendapatkan pendidikan informal seperti Bahasa Latin, geometri, dan matematika. Akan tetapi ketika dia menginjak masa remaja, ayahnya membawanya ke bengkel kerja penulis terkenal yang kemudian menjadi guru pribadinya. Di bengkel itulah dia mempelajari teori dan mengembangkan kemampuannya di bidang kimia, mekanika, dan pengolahan kayu, dan bidang lainnya. Selain itu, dia mendalami metode melukis, pemodelan, memahat, dan pewarnaan.
Sebelum kerangka pesawat ditemukan oleh para ahli, dia telah memikirkannya lebih dulu. Hal ini didukung oleh rasa keingintahuan yang tinggi dan tingkat kecerdasan yang dimilikinya. Tidak menutup kemungkinan bahwa dia termasuk kategori orang yang jenius tingkat dunia.
Berdasarkan cerita Leonardo Da Vinci, dapat disimpulkan bahwa dia memiliki faktor yang kemudian membuatnya menjadi orang pintar, yaitu keingintahuan yang tinggi dan hidup di tengah keluarga kaya raya. Semua sudah terfasilitasi termasuk guru pribadi dan dia tidak perlu memikirkan makan dapat darimana. Selain itu, hikmah yang bisa kita ambil adalah harta memang sangat penting untuk meningkatkan kualitas intelektual. Bahkan, modal utama penuntut ilmu yang tertulis di dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim yaitu biaya. Biaya yang tercukupi menjadi faktor utama dalam menentukan masa depan anak karena orangtua dapat memilih guru yang bersifat pribadi, memberi makanan yang bergizi, dan memilihkan lingkungan yang mendukung. Ketiganya sangat mempengaruhi kualitas intelektual manusia.
Lalu, apakah kepintaran hanya untuk orang kaya? Tentu saja tidak. Namun, seorang yang hidup di tengah keluarga pas-pasan atau miskin harus menghindari zona nyaman. Bahkan, dia harus belajar sambil bekerja atau bekerja dulu agar bisa melanjutkan pendidikan.
Alhamdulillah, dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi semua dapat diakses hanya melalui genggaman. Tidak perlu mengeluarkan banyak biaya untuk mengoleksi buku agar dapat dibaca, cukup dengan sebuah alat dalam genggaman untuk menggenggam ilmu. Apalagi ilmu pengetahuan kini sudah tersedia dalam bentuk audio, visual, dan audiovisual, sehingga tidak ada lagi alasan seseorang untuk tidak belajar di era sekarang.
Allah berfirman dalam Q.S al-Ra’d ayat 11:
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ
“… Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan mereka sendiri.”
Pertanyaan tentang pintar identik dengan orang kaya kini dapat ditangkis apabila, seseorang memiliki kegigihan untuk mewujudkan apa yang dicita-citakan. Tak jarang seseorang yang mulanya berasal dari keluarga miskin kemudian menjadi orang pintar dan kaya. Selain biaya, modal seorang pelajar yang juga ditulis dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim yaitu waktu yang lama. Dengan waktu yang lama, seorang pelajar akan mendapatkan pengetahuan yang lebih. Apalagi jika mengingat kalimat “Tidak ada yang instan di dunia ini”. Maka selain biaya dan waktu yang lama juga dibutuhkan kekonsistenan. Bagaimana bisa para ilmuwan berhasil jika tidak memiliki sikap konsisten dalam belajar?. Semua orang bisa mendapatkan apa saja yang diimpikan asal dalam usahanya disertai dengan konsisten. Dr. Mohammad Nasih seringkali menganalogkan sikap konsisten dengan panjat pinang. Jika tidak sampai puncak, maka tidak akan bertahan lama. Sebab tidak mampu bertahan di tengah medan yang licin dan melawan gaya gravitasi bumi, sehingga tidak mendapatkan apa yang diinginkan.
Komentar
Posting Komentar