3 Istilah Manusia Dalam al-Qur'an: Basyar, Nas, Insan

 Manusia selalu dibutakan oleh perbuatan menaklukkan alam sekitarnya seperti usaha untuk membuat senjata melawan binatang buas, perusahaan, peternakan, dan lain-lain. Sering kali manusia memikirkan hal-hal yang tidak kompleks. Oleh sebab itu, untuk mengetahui kualitas seorang muslim Allah menurunkan wahyu kepada salah seorang dari hambaNya. Terkait hal itu, tidak hanya didukung oleh satu atau dua ayat saja, akan tetapi harus mendalami ayat-ayat tentang manusia dan melakukan kontekstualisasi. 

Dalam al-Qur'an, manusia disebut dengan istilah al-Insan, al-Basyar, dan al-Nas. Al-insan berasal dari tiga kata, yaitu: anasa yang memiliki arti abshara (melihat); ‘alima (mengetahui) dan ista’dzana(minta izin), nasiya yang berarti lupa dan uns yang berarti jinak. Menurut M. Quraish Shihab, Uns selain berarti jinak juga dapat diartikan harmonis dan tampak. 

Berdasarkan arti makna melihat, mengetahui dan minta izin, kata insan mengandung arti adanya suatu hubungan dengan kemampuan penalaran, sehingga manusia dapat mengambil pelajaran atas apa yang dilihat, mampu mengetahui yang haq dan bathil, serta ada dorongan untuk minta izin menggunakan sesuatu yang bukan menjadi haknya. Istilah lupa menunjukkan adanya hubungan dengan kesadaran diri, sebab terkadang manusia lupa terhadap sesuatu, karena dia kehilangan kesadaran terhadap hal tersebut. Oleh karena itu, jika seseorang betul-betul lupa terhadap kewajiban yang semestinya dilakukan, maka dia terbebas dari dosa, sebab dia kehilangan kesadaran terhadap kewajibannya. Dari makna jinak, manusia menjadi kerasan tinggal bersama manusia dan binatang pun ada yang betah tinggal bersama (dekat dengan) manusia. Sedangkan kata anis adalah tempat tinggal yang menyenangkan, hingga seseorang betah tinggal di situ. Kata insan dan ins dapat berasal dari anisa. Kata ins selalu digunakan dalam kaitan dengan jin, hingga jin bisa diartikan dengan buas, lawan jinak. di samping jin juga jan. Penghadapan ini juga sebagai acuan bahwa manusia adalah makhluk nyata dan ramah, sedangkan jin itu makhluk halus yang tidak tampak. Dalam Alquran, kata insan digunakan untuk menunjukkan manusia dengan seluruh totalitas, jiwa dan raga. Perbedaan antara sesama itu karena perbedaan fisik, mental dan kecerdasan. Dari asal kata anasa dan uns dapat dikatakan bahwa kata insan menunjukkan arti ada kaitan dengan sikap, yang lahir dari adanya kesadaran penalaran. Manusia itu pada dasarnya jinak, mampu menyesuaikan diri dengan realitas hidup dan lingkungan yang ada. Oleh karena itu, manusia memiliki kemampuan adaptasi untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi dalam kehidupannya, baik perubahan sosial maupun alamiah. Tentu saja dengan tetap menghargai tata aturan etika. Sebagai makhluk yang berbudaya, dia tidak liar, baik secara sosial maupun alamiah.

Adapun kata basyar itu bentuk jamak dan tinggalnya basyarah digunakan untuk menyebut semua makhluk, pria dan wanita, sendirian atau banyak. Kata basyar berarti permukaan kulit kepala, wajah dan tubuh yang jadi tempat tumbuhnya rambut. Pemakaian kata basyar dalam Alquran menunjukkan pengertian, bahwa yang dimaksud adalah anak turun Nabi Adam yang biasa makan dan berjalan di pasar-pasar dan tempat lainnya yang banyak dikunjungi orang. Di situlah mereka biasa saling bertemu atas dasar persamaan kebutuhan. 

Penggunaan kata basyar dengan penyebutan untuk semua manusia, memberikan arti adanya persamaan umum yang selalu menjadi ciri pokok, yaitu kenyataan lahiriyah yang menempati ruang dan waktu serta terikat oleh hukum alamiahnya. Lihatlah manusia yang memiliki bentuk badan yang sama, makan dan minum dari bahan yang sama dari alam ini. Karena. Karena pertambahan usia, tubuhnya menurun dan akhirnya juga meninggal.

Manusia dalam pengertian basyar, sangat bergantung pada alam. Pertumbuhan dan perkembangan fisiknya tidak dapat dilepaskan dari makanan atau minuman yang terdapat di alam. Sedangkan dalam pengertian insan, tidak dapat dilepaskan dari kebudayaan, termasuk pendidikan. Kematangan penalaran, kesadaran dan sikap hidupnya, bersandar pada pendidikan yang terjadi di masyarakat yang pasti mengalami perubahan. Manusia dihargai oleh sesama manusia, karena kualitas perbuatannya yang ditentukan oleh kematangan penalaran dan kesadaran yang membentuk sikap hidup yang bijak. Oleh karena itu, meski bagus wajahnya dan tegap badannya, tetapi perbuatannya rendah, manusia akan kehilangan jati dirinya dan kemanusiaannya serta sering disamakan dengan binatang, hidupnya liar dan tega membunuh sesamanya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Asal Usul Munculnya Budaya Feodalisme di Pesantren

Sempurnakan Kesehatan dengan Peduli kepada Kesehatan Mental