Pengaruh Gizi terhadap Akademisi

 

Di Indonesia, permasalahan gizi terus mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Permasalahan tersebut semata-mata bukan hanya karena miskin ekonomi namun juga miskin pengetahuan. Bagaimana tidak? Seseorang yang miskin ekonomi tak akan dapat melanjutkan pendidikan melalui kursus, sehingga tak akan memiliki pengetahuan yang cukup. Banyak masyarakat yang mengabaikan pentingnya ilmu gizi di kalangan masyarakat. Hal ini dapat dipengaruhi oleh faktor adat istiadat dan tahayyul. Masyarakat yang memiliki paradigma sempit akan berfikiran bahwa memenuhi nutrisi dengan memperhatikan kuantitas atau harga hanya akan menimbulkan krisis ekonomi. Sedangkan memenuhi keinginan untuk menghabiskan uang dengan cara belanja merupakan hal yang tepat. Mereka belum menyadari betapa mahalnya kesehatan jika dibanding dengan barang-barang yang mereka beli. 

Hal itu sudah menandakan bahwa mereka tidak bersyukur keada Allah, karena mereka tidak menjaga amanat yang telah diberikanNya. Kesehatan merupakan aset yang paling berharga dan menjaganya merupakan salah satu bentuk rasa syukur kepada Allah. Allah SWT berfirman dalam Q. S An-Nahl: 18, artinya :"Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, maka kalian tidak akan sanggup menghitungnya". Bahkan jika semuanya dikalkulasikan, mulai dari nikmat bernafas. Bayangkan jika seseorang sedang mengalami sesak nafas, ia harus segera dibawa ke RS untuk mendapatkan penanganan khusus. Kemudian akan menghitung administrasi dalam jumlah yang tidak sedikit. Itu baru satu kasus. Belum lagi jika terjadi penyakit komplikasi, berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan setiap harinya?. Bagaimana jika dia merupakan keluarga miskin?. Naudzu bi Allah. Tsumma naudzu bi Allah. 

Tingkat pendidikan tinggi bagi seorang ibu dapat membantu untuk memahami istilah-istilah dalam ilmu gizi. Pendidikan tersebut akan menghasilkan pengetahuan yang mudah dipahami, sehingga Ibu akan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Tak semudah itu, setiap perjalanan pasti memiliki lika-liku tersendiri. Semua terlihat baik-baik saja, ternyata tidak. Pengetahuan ibu akan ilmu gizi akan selalu bertentangan dengan tradisi suatu daerah. Contoh: masyarakat pedesaan meyakini bahwa ASI yang pertama kali keluar tidak boleh diberikan kepada bayi yang baru lahir, mereka mengira bahwa bau amis yang timbul dari ASI tersebut tidak baik untuk bayi. Kejadian ini sudah tak asing lagi. Para ahli gizi telah memberikan penyuluhan akan hal itu, namun justru mengakibatkan perdebatan yang tak kunjung selesai. Hal ini terjadi karena masyarakat awam tak menerima kaidah yang sebenarnya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

3 Istilah Manusia Dalam al-Qur'an: Basyar, Nas, Insan

Asal Usul Munculnya Budaya Feodalisme di Pesantren

Sempurnakan Kesehatan dengan Peduli kepada Kesehatan Mental