Tekat Kuat Sang Perempuan Hebat

 


Negara minyak tak lagi menjadi Negara Asing bagi masyarakat Provinsi Jawa Tengah. Salah satu kota yang memiliki pesona dengan berbagai wisata dan keunikan yang lainnya. Aliya, perempuan desa yang mempunyai harapan setinggi langit dan usaha sekeras baja. Ia memiliki keinginan besar yang harus segera diwujudkannya. 

Suatu ketika, surat kelulusan di Madrasah Aliyah Al-Mutawassitoh telah keluar. Dalam surat tersebut Aliya mendapatkan predikat terbaik angkatan 2019. Ia sangat senang melihat tulisan “Congratulation on your winner, Sidqin Aliya”. Tulisan tersebut menandakan bahwa ia menjadi siswa terbaik. Sebab, tak sering siswa di Madrasah Aliyah tersebut mendapatkan tulisan seperti itu di surat kelulusannya. 

“Kenapa air matamu jatuh dengan tiba-tiba, Nak”, tanya Rina. 

“Hiks…Hikss”, suara isakan tangis Aliya. 

“Katakan pada Ibu, Nak”, ucap Rina sembari memeluk anaknya. 

“Aku menjadi lulusan terbaik di MA tahun ini, Bu”, jawab Aliya dengan mengusap air matanya. 

“Alhamdulilah dong, Nak. Tapi kenapa kamu menangis? Apa kamu terharu dengan isi surat itu?, tanya Rina kembali.

“Tidak, Bu. Aku sedang bersedih, karena capaianku ini hanya dapat membahagiakan Ibu, tapi tidak dengan Bapak”, jawab Aliya. 

“Tidak, Nak. Kamu salah. Bapakmu pasti senang. Sekarang kamu tumbuh menjadi perempuan yang dewasa lagi cerdas dan bijaksana”, ujar Rina. 

“Tapi bagiku itu belum cukup, Bu. Itu hanya semata dan hanya berlaku di dunia. Setelah ini, izinkan aku untuk menimba ilmu ke luar kota yang aku pilih ya, Bu. Aku tau, ibu pasti mengizinkanku demi cita-citaku. Ibu kan sangat menyayangiku. Ya kan, Bu?”, bujuk Aliya. 

“Tidak, Nak. Kamu pasti sedang membujuk Ibu, kan?”, ucap Rina sembari mencubit hidung Aliya. 

“Heheeeeee”, ucap Aliya tersipu malu. 

“Kepada nama-nama yang saya panggil, harap segera naik ke atas panggung. Yang Pertama, Sidqin Aliya”, seru MC acara pelepasan.  

“Ayo, Nak. Segera maju”, pinta Rina.

“Baik, Bu”, jawab Aliya. 

Lagi-lagi Aliya menarik perhatian semua Audience. Hingga salah satu dari Audience menggeleng-gelengkan kepalanya dan melontarkan sebuah kalimat. 

“Ma Syaa’a Allah. Bagaimana diri ini tidak terkagum dengannya?”, ucap Nasir dengan lantang. 

“Maksutmu apa, Sir?”, tanya Joko, penggemar rahasia Aliya.

“Tttttidak, Jok. Aku hanya sedang kurang fokus tadi”, jawab Nasir. 

“Awas aja, ya. Kalo kamu sampe berani merebut Aliya dariku”,tukas Joko. 

Setibanya Aliya di atas panggung, MC meminta KepSek untuk memberikan hadiah dan ucapan selamat. 

“Selamat, Nak. Terus berusaha untuk mewujudka tekad besarmu. Ini hadiah dari sekolah dan yang ini dari saya”, ucap KepSek sembari menyodorkan hadiah. 

“Terima kasih banyak, Pak”, ucap Aliya sambil menerima hadiah dan mencium tangan KepSek. 

Setelah Aliya turun, Ibunya kembali mencium dahi Aliya. Beberapa menit kemudian, acara pelepasan tersebut berakhir dengan suara isakan tangis. Mau tidak mau semuanya harus menerima kenyataan. Wisuda kali ini bukanlah berarti wis udah (akhir dari perjuangan) bagi Aliya. Justru wisuda ini menandakan bahwa awal dari sebuah perjuangan akan segera dimulai. Semuanya bersalaman dan bergantian pulang. 

Usai sholat fardhu, Aliya selalu mendoakan bapaknya, membaca al-Qur’an, dan menulis sebuah puisi. 

Terima kasih, Sang Pencipta 

Beribu-ribu syukurku padaMu

Beribu-ribu maafku padaMu 

Tak cukup untuk menebus semua kesalahanku 

Maafkan diri ini yang sering lalai akan perintahMu 

Engkau selalu mengabulkan doa dari Sang Pendosa sepertiku 

Pantaskah aku menjalani kehidupan yang amat berkesan 

Kehidupan yang mengajarkanku banyak hal 

Kehidupan yang membuatku semakin kuat menghadapi cobaan 

Dan kehidupan yang menuntunku ke jalan yang benar 

Terima kasih, Wahai Tuhan… 

Kini aku merasakan salah satu sifatmu yang berbeda dari makhluk 

Engkau selalu ada di kala aku susah maupun senang

Engkau selalu menutupi aib-aibku 

Dan hanya kepada Engkau ku ceritakan semua keluh kesahku 

Bagiku, Engkau adalah segalanya 

Terima kasih, Sang Pencipta

“Tok..Tokkk..Tokk”, suara ketukan pintu kamar. 

“Siapa?”, tanya Aliya. 

“Ibu, Nak. Keluarlah, ada tamu yang ingin menemuimu”, jawab Ibu. 

“Sebentar, Bu”, ucap Aliya. 

Aliya bergegas memakai jilbab dan keluar dari kamar untuk menemui tamu. 

“Assalamualaikum, Aliya. Saya Pak Candra, HRD PT Sejahtera. Tujuan saya kesini adalah untuk menawarimu pekerjaan di PT kami”, jelas Pak Candra. 

“Waalaikum salam, Pak. Tapi saya baru saja lulus MA pagi tadi, Pak”, ucap Aliya. 

“Tidak apa. Itu tak jadi masalah bagi PT kami, karena kami mengetahui kemampuan, pengetahuan, dan bakatmu. Mumpung ini ada kesempatan, lho. Belum tentu nanti akan datang lagi kesempatan emas seperti ini”, ujar Pak Candra. 

“Mohon maaf, Pak. Sepertinya saya tidak dapat menerima tawaran Bapak. Saya masih ingin belajar, Pak. Bagi saya, semua ilmu yang saya miliki belum cukup untuk membekali hidup dan perjuangan saya. Terima kasih atas kepercayaan Bapak kepada saya”, jawab Aliya dengan tegas. 

“Baiklah. Saya juga tak memiliki hak untuk memaksa. Terima kasih atas waktunya. Apabila suatu saat nanti kamu berubah pikiran, harap hubungi saya, ya.  Saya mohon izin kundur diri. Salam untuk ibumu. Assalamualaikum”, pamit Pak Candra seraya berdiri dan berjalan menuju pintu keluar. 

“Waalaikum salam warahmatullah”, jawab Aliya.

Setelah Pak Candra masuk ke dalam mobil, Aliya menutup kembali pintu rumahnya dan menguncinya. Lalu ia berjalan ke arah kursi dan duduk dengan pandangan kosong. Aliya memikirkan semua perkataan yang telah diucapkan Pak Candra tadi. Tiba-tiba pikirannya terbesit dan membuatnya berbicara dalam hati. 

“Apa aku terima saja tawaran Pak Candra tadi, ya? Daripada aku menyusahkan ibuku terus. Kasihan ibu, semakin hari semakin tua, dan aku? belum membuatnya bahagia”, ucapnya dalam hati. 

“Ahhh.. Tidak.. Aku harus menjadi wanita karir. Aku harus membuat ibuku bahagia dengan kesuksesanku nanti. Yaa, mungkin sekarang aku masih menyusahkanmu, Ibu. Tapi aku berjanji pada diriku sendiri dan padamu, Bu. Bahwa aku akan membahagiakanmu”, ungkapnya dalam hati lagi. 

Sang Ibu yang datang membawa secangkir teh hangat pun terheran melihat anaknya yang tengah duduk sendiri seraya melamun. 

“Nak… Kok kamu sendirian? Tamunya mana?”, tanya Rina. 

“…….”, Aliya tak menjawab sepatah kata pun. 

“Aliyaa….”, panggil Rina kemudian. 

“……”, masih tak ada respon dari Aliya. 

Kemudian Ibu meletakkan cangkir yang berisi teh di atas meja dan tidak sengaja menginjak kaki Aliya. 

“Awwwwww..”, teriak Aliya. 

“Sejak kapan ibu disini?”, tanya Aliya kemudian. 

“Sejak beberapa menit yang lalu. Ibu telah memanggilmu berulang kali, Nak. Tapi tak satu pun kata keluar dari mulutmu itu”, jawab Rina. 

“Allahuuu. Maafkan Aliya, Bu. Aliya tidak mendengar suara Ibu”, ucap Aliya seraya memeluk ibunya. 

“Bagaimana kamu bias mendengar? Sedangkan pandanganmu saja kosong, sehingga ragamu hanya diam seperti patung yang bernyawa”, celetuk Rina. 

“Ah ibu ini. Sukanya gitu kok”, ucap Aliya tersipu malu.

Waktu dalam sehari berlalu dengan begitu saja. Pikiran bimbang pun menghantui Aliya kembali. Jika ia memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya, maka ia harus rela meninggalkan ibunya hidup sebatang kara di rumah. Tetapi ia juga tak mau melanjutkan pendidikan di kota kelahirannya. Karena Aliya merupakan perempuan yang sangat ambisius. 

“Ibu sudah makan?. Aliya ambilkan makanan, ya?. Ibu mau Aliya buatkan susu?”

“Tumbem sekali pertanyaanmu beruntutan seperti kereta api?. Pasti ada maunya nih”. 

Rina mulai menerka maksut Aliya. Karena tak biasanya Aliya menawari sebanyak itu. Dan itu merupakan suatu upaya yang dilakukan Aliya untuk membujuk Rina. 

“Mmmm. Ngga kok,Bu. Aliya menawari Ibu bukan karena mau bujuk Ibu”. 

“Jujur saja, Nak. Ibu sudah hafal bagaimana sikap kamu” 

Aliya terus mengelak. Tetapi elakannya tak mampu mengalahkan naluri Rina. 

“Aliya mau kuliah di Universitas Al- Azhar, Bu. Boleh, ya?” 

“Mana itu, Nak. Yang dekat-dekat saja. Agar Ibu bias memantaumu. Kalau kamu kuliah di jauh sana, bagaimana Ibu memantaumu? Apalagi kamu juga sering sakit-sakitan, kan” 

“Ngga, Bu. Aliya janji akan menjaga kesehatan. Aliya juga akan makan secara teratur, tidak seperti di rumah”. 

“Tapi, Nak. Kamu tega meninggalkan Ibu sendirian di rumah?” 

“Sebenarnya Aliya ga tega sih, Bu. Tapi kan ini untuk masa depan Aliya. Aliya mohon, Bu. Kali ini, Ibu iyakan permintaan Aliya ya, Bu”. 

Aliya terus membujuk dan meyakinkan Ibunya. Entah alasan apa yang membuatnya berani senekat itu. Universitas Al-Azhar bukanlah Universitas yang dapat ditempuh selama 1-2 jam. Tidak hanya beda provinsi, tetapi juga beda negara. Rina pun terus menahannya, karena Aliya merupakan anak terakhir yang sangat disayanginya. 

“Aliya ingin menjadi anak yang sholihah, Bu. Aliya juga ingin membahagiakan Ibu dan Bapak di dunia dan akhirat. Aliya sangat yakin bahwa Aliya bisa. Siapa lagi yang akan membahagiakan Ibu kalua bukan Aliya?. Sudah cukup Aliya menyusahkan Ibu selama bertahun-tahun, Bu. Kini saatnya Aliya mulai berjuang. Ibu tak perlu khawatir dengan Aliya. Cukup doakan Aliya dan motivasi Aliya terus, Bu”. 

“Mmm. Beri ibu waktu untuk berfikir, Nak. Ini merupakan keputusan yang sangat berat bagi Ibu. Ibu tidak mempermasalahkan biaya, karena Ibu yakin Allah akan memudahkanjalan orang yang sedang menuntut ilmu”. 

“Ok, Bu. Siap. Aliya tunggu kabar baik dari Ibu”. 

Rina pun teringat Shodiq, Kakak Aliya. Hanya dia yang dapat di ajak bermusyawarah. Karena Shodiq juga yang kelak akan menggantikan Ayah Aliya ketika Aliya menikah nanti. Seketika Rina segera mengirimkan pesan melalui whatsapp untuk membahas hal ini. 

“Nak.. Ada yang Ibu ingin bicarakan padamu. Tolong balas pesan Ibu segera”

“Ada apa, Bu?” 

“Ini soal Adekmu, Aliya. Ia terus merengek dan membujuk Ibu agar Ibu mengizinkannya kuliah di Universitas Al-Azhar. Tapi kamu juga tau kan, Nak. Selain biaya yang mahal, Universitas itu juga sangat jauh. Ibu khawatir akan kesehatannya. Menurut Ibu ia masih membutuhkan Ibu” 

“Biarkan saja Aliya mengejar impiannya, Bu. Ibu tak perlu khawtir dengannya. Aku yakin, ia bisa menjaga dirinya sebagaimana yang diucapkannya pada Ibu. Percaya padaku, Bu” 

“Tapi, Nak. Aliya disana tidak memiliki siapa-siapa. Ibu juga takut kalau naik pesawat. Sedangkan kamu juga sedang berada di tanah perantauan. Lalu, siapa yang akan mengantarkan Aliya sampai sana?” 

Shodiq pun terus meyakinkan Rina. Karena Shodiq sangat ingin Aliya melanjutkan pendidikannya. Ia juga tak keberatan jika harus membiayai pendidikan Aliya hingga tamat. Ia merasa sayang jika Aliya harus bekerja dan tidak melanjutkan pendidikannya karena Aliya adalah adek yang sangat cerdas, tidak sepertinya. 

“Aku punya solusi, Bu. Anak teman Ayah ada yang menyukai Aliya. Dia sering ngepoin Aliya melalui saya. Namanya Ken. Dia sudah mandiri dari segi finansial, Bu. Dia juga mahasiswa di Universitas Al-Azhar semester empat. Bagaimana kalau kita minta dia untuk menikahi Aliya, Bu”. 

“Yang bener aja kamu, Nak. Aliya masih sangat terlalu muda untuk menikah. Bagi ibu, ia juga masih kekanak-kanakan untuk menjadi ibu rumah tangga”. 

“Justru itu, Bu. Biar Aliya sekalian jadi anak yang benar-benar mandiri. Dia pasti akan berubah kok, Bu. Aku juga yakin, Ibu akan merasa lebih tenang jika Aliya menikah dengan Ken. Apalagi Ken sangat menyayangi Aliya. Ia pasti akan menjaga Aliya dengan sangat baik”. 

“Tapi apa Aliya mau, Nak?” 

“Itu tergantung cara Ibu membujuk Aliya. Sudah dulu ya, Bu. Waktu istirahat Shodiq sudah habis. Shodiq mau lanjut kerja dulu. Assalamualaikum, Ibuku tercinta” 

“Waalaikum salam”. 

Shodiq memang terkenal sebagai pemuda yang sangat dewasa lagi bijaksana. Ia dapat berfikir dewasa karena memang umurnya yang sudah menginjak dewasa dan Bapaknya juga orang yang bijaksana. Tak heran jika Shodiq dan Aliya juga menjadi pemuda yang bijaksana. 

Rina merasa terhantui oleh kalimat Shodiq, hingga akhirnya ia memutuskan untuk sholat istikharah agar diberi petunjuk olehNya. Dengan berat hati ia menyetujui saran dari Shodiq. Tanpa pikir panjang, Rina memberi Aliya pilihan, jika tetap ingin kuliah, maka ia harus menikah dengan laki-laki yang menjadi anak dari teman ayahnya. 

Aliya memilih menikah muda, meskipun dalam keadaan terpaksa. Tapi, ia yakin bahwa saran dari Rina adalah yang terbaik baginya. Beberapa bulan kemudian, Aliya  menikah dengan anak teman dari ayahnya sekaligus Dokter spesialis muda. Mereka pun saling melengkapi dan menjadi keluarga sakinah mawaddah wa rohmah. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

3 Istilah Manusia Dalam al-Qur'an: Basyar, Nas, Insan

Asal Usul Munculnya Budaya Feodalisme di Pesantren

Sempurnakan Kesehatan dengan Peduli kepada Kesehatan Mental