Gizi Santri dan Putra Kiai
Tercukupinya kebutuhan gizi termasuk hak asasi setiap individu. Asupan makanan yang kurang dari jumlah standar akan berdampak pada status gizi dan gangguan kesehatan. Makanan setiap hari harus mengandung energi, karbohidrat, protein, lemak, dan mineral dan vitamin yang diperlukan oleh tubuh.
SDM yang berkualitas dipengaruhi oleh kecukupan asupan gizi dan pangan. Kecukupan tersebut harus benar-benar diperhatikan sejak dini hingga dewasa. Keberhasilan suatu negara dalam menghasilkan penerus bangsa yang berkualitas dilihat dari makanan yang diasup. Standar makanan yang harus diasup oleh setiap individu dapat berpacu pada AKG. Dalam AKG, semua orang dapat mengira-ngira seberapa banyak kebutuhannya. Namun hal ini memerlukan tenaga ahli untuk dapat berkonsultasi makanan apa saja yang dapat dimakan dan seberapa banyaknya.
Masalah gizi di Indonesia masih menjadi buah bibir di kalangan kesehatan. Masalah gizi menyerang semua kalangan usia, tak peduli muda atau tua, dan tak terkecuali mereka yang tinggal di pesantren. Penyuluhan yang diberikan oleh puskesmas setempat sangat jarang menjuru ke area pesantren. Sedangkan kebanyakan dari kiai pesantren hanya lulusan pesantren juga dan tak melanjutkan belajarnya hingga perguruan tinggi. Sehingga para santri tak mendapatkan wawasan tentang kesehatan.
Penyediaan makanan santri telah dihandle oleh pengurus dapur pondok, sehingga akan memudahkan para santri untuk memenuhi kebutuhan gizi ditengah padatnya jam agenda. Di pesantren X, para santri tak diperbolehkan untuk mengonsumsi makanan selain dari dalam pondok. Hal ini bertujuan untuk mengurangi konsumsi bahan pengawet dan bahan tambahan pangan. Oleh karena itu, ketersediaan nutrisi dari setiap makanan harus disesuaikan dengan kebutuhan gizi santri. Ketersediaan ini sangat berkaitan erat dengan kondisi keuangan dan inovasi dari pengurus dapur.
Asupan energi santri sangat jauh dibanding angka kecukupan gizi. Kurang lebih 50 persen, gizi santri dipenuhi dari pondok, kecuali vitamin. Pada kenyataannya, masih banyak santri yang mengonsumsi makanan dari luar yang mengandung bahan tambahan. Hal ini dikarenakan oleh rasa bosan yang menggebu pada diri santri. Selain itu, santri merasa bahwa butuh asupan vitamin dan mineral, sehingga mereka mencari makanan dari luar tanpa dibekali pengetahuan yang cukup.
Santri hanya akan mendapatkan makanan dari pondok, yang hanya terdiri dari makanan pokok. Berbeda dengan putra kiai. Putra kiai juga mendapatkan asupan makanan dari luar. Ketika seorang kiai diundang oleh sejumlah masyarakat untuk mengisi pengajian-pengajian, pasti ketika pulang akan diberi sebungkus makanan. Makanan tersebut tak sembarang makanan, karena masyarakat berlomba-berlomba untuk mencari barokah kiai. Pada umumnya, bingkisan yang diberikan kepada kiai memiliki kandungan gizi tinggi dan dalam porsi yang melebihi standar. Bingkisan tersebut akan terus diberikan setiap kali seorang kiai mengisi pengajian. Jadi, jika hanya dalam sehari saja seorang kiai mengisi 3 kali, maka akan mendapatkan 3 bingkisan. Dari sinilah, putra kiai akan lebih terjamin kualitasnya, disamping dididik secara intensif juga mendapat asupan gizi yang cukup.
Kualitas makanan bergantung pada harga. Wajar saja jika kebanyakan santri tak memiliki skill yang memadahi, karena secara global uang yang digunakan untuk membayar makan tak lebih mahal dibanding dengan uang yang digunakan untuk membayar bangunan. Pola pendidikan yang seperti ini semestinya tak diberlakukan di Indonesia. Indonesia merupakan negara berkembang, namun mestinya Indonesia merupakan negara yang maju. Akan tetapi mengapa hingga sekarang tak maju-maju? Bahkan umatnya banyak yang tertinggal. Penyebab hal-hal tersebut salah satunya yaitu korupsi yang merajalela. Bayangkan, jika tak ada satupun koruptor di negara kita, tak akan ada satupun anak yang terlantar. Tak akan ada anak yang dibiarkan mengamen dipinggir jalan. Dan, tak akan ada alasan untuk tak menghasilkan generasi yang gemilang.
Pemerintah sekarang membuat peraturan, namun semata-mata untuk dilanggar. Para koruptor yang mencuri uang negara hanya dipenjara beberap tahun, bahkan masih diberi keringanan. Sedangkan nenek dikampung yang mengambil kayu satu batang langsing dipenjara selama 15 tahun. Bagaimana mereka akan menghidupi keluarganya?. Pantas saja jika SDM Indonesia kurang berkualitas, karena tak terpenuhinya nutrisi per hari.
Komentar
Posting Komentar