Generasi Cerdas Lahir dari Ibu Berkualitas
Pengaruh asupan gizi terhadap kualitas sumber daya manusia (SDM) sangat signifikan. Sumber daya manusia (SDM) berkualitas dimasa depan dimulai dari sekarang. Agar dapat menghasilkan SDM berkualitas dibutuhkan persiapan secara matang, dimulai dari rencana menikah dan rencana kehamilan. Perencanaan kehamilan bertujuan untuk mencegah komplikasi kehamilan seperti perdarahan, infeksi, eklamsia, maupun kematian.
Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010 menunjukkan bahwa, tidak semua pasangan suami istri memiliki kesiapan untuk mempunyai anak. Alasan yang dimiliki pasangan tersebut yaitu tidak tepatnya waktu kehamilan terjadi. Hal tersebut berdampak pada pengguguran kandungan. Kehamilan yang sehat memerlukan kesiapan fisik maupun mental, oleh sebab itulah dibutuhkan perencanaan kehamilan. Kehamilan yang direncanakan akan berdampak positif terhadap fisik ibu hamil dan kondisi janin.
Upaya yang dapat dipersiapkan sebelum masa kehamilan yaitu pemenuhan nutrisi seimbang. Nutrisi akan mempengaruhi sel sperma dan sel telur dalam menghasilkan janin yang sehat. Nutrisi yang berkualitas berperan penting dalam mencegah anemia kehamilan, infeksi, perdarahan, dan komplikasi yang lainnya. Dalam mempersiapkan kehamilan, skrining sangat diperlukan untuk mengetahui penyakit menular yang diderita oleh ibu hamil, agar dapat diatasi dengan segera dan tidak berimplikasi kepada janin yang dikandung.
Ketidaksiapan fisik dan mental ibu hamil akan berakibat pada masa mengasuh anak dalam menghadapi masa keemasan (golden age) anak, sehingga dapat mengakibatkan pengambilan keputusan untuk menggugurkan kandungan. Pencegahan ini dapat dilakukan dengan mengadakan edukasi pentingnya nutrisi prakonsepsi. Dengan demikian, dapat mengurangi risiko kehamilan dan dapat melahirkan generasi yang berkualitas. Edukasi yang diberikan berupa nutrisi yang harus dipenuhi oleh ibu hamil seperti, asam folat, zat besi, dan lainnya. Melalui edukasi, diharapkan terdapat peningkatan pengetahuan ibu.
Beberapa negara telah merekomendasikan edukasi, namun masih saja terdapat negara yang tidak mendapatkan informasi terkait persiapan prakonsepsi. Pemberian edukasi dapat memperbarui paradigma masyarakat bahwa kesehatan masa kehamilan dan kesiapan calon orangtua sangat utama. Kesiapan tersebut akan menimbulkan rasa tanggung jawab terhadap aspek fisik, mental, dan ekonomi. Faktor-faktor tersebutlah yang akan menentukan kondisi anak dan ibu hamil.
Standar Ibu berkualitas dapat dilihat dari tingginya tingkat pengetahuan tentang kesehatan, khususnya kehamilan. Ibu yang memiliki pengetahuan cukup akan benar- benar memperhatikan asupan makanan demi kesehatan diri dan janinnya. Dengan begitu, Ibu akan siap mengandung selama sembilan bulan. Kesiapan seorang ibu akan bermanfaat untuk mengurangi risiko malnutrisi, obesitas, stress, dan lain-lain.
Masa perkembangan dan pertumbuhan ditentukan pada seribu hari pertama kelahiran (HPK). HPK merupakan masa emas bagi balita. Pada masa tersebut, balita akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan secara pesat dan pertambahan kebutuhan zat gizi. Zat gizi dapat dikatakan sebagai salah satu penentu keberhasilan seseorang. Semakin baik status gizi seseorang, makan akan semakin baik juga kualitas kesehatan dan kesejahteraan hidupnya. Balita merupakan golongan yang paling rawan terkena malnutrisi. Oleh karena itu, dibutuhkan ibu yang mengetahui ilmu tentang gizi seimbang, makanan pendamping asi, dan berbagai macam pengganti. Mengapa demikian?, karena seorang ibu akan menghadapi beberapa masalah seperti anak tidak suka sayur, harus mengganti ASI dengan makanan yang bagaimana, dan lain-lain. Jika seorang ibu tak memiliki pengetahuan akan hal itu, maka akan mengakibatkan terjadinya status gizi kurang pada anak dan akan berdampak pada kondisi fisik dan mentalnya.
Perilaku orangtua terhadap pemberian makan kepada anak berfungsi dalam memenuhi asupan gizi anak. Orangtua memiliki tanggung jawab yang besar untuk memenuhi kebutuham nutrisi dalam masa pertumbuhan dan perkembangan. Mayoritas orangtua memberikan makanan yang manis tanpa memberikan makanan yang tidak memiliki rasa. Padahal, balita memerlukan waktu untuk beradaptasi. Pemberian makanan manis juga sering dilakukan oleh kebanyakan orangtua sebagai wujud pemberian hadiah, tanpa melakukan kontrol dalam menyeleksi makanan anak, karena bertujuan hanya untuk menyenangkan anaknya saja. Dalam hal ini, orangtua memiliki wewenang untuk memberikan makanan, sekaligus yang tidak disukainya. Situasi ini menyebabkan adanya gerakan tutup mulut pada anak.
Seorang peneliti yang bernama Jansen et al. menyatakan bahwa, anak akan merasa tertekan ketika orangtua memaksanya untuk tetap makan meskipun sudah tidak mau.
Komentar
Posting Komentar