Penyebab Penyakit yang Sesungguhnya adalah Lemak

Sebuah kehidupan tidak luput dari lemak. Manusia dan hewan sangat membutuhkannya untuk dapat mempertahankan hidup. Lemak dibutuhkan dalam jumlah yang cukup, sama dengan kebanyakan zat gizi lainnya. Cukup yang dimaksud yaitu tidak kurang dan tidak lebih. Terlalu banyak konsumsi lemak bukan akan lebih sehat, akan tetapi sebaliknya. Kini, lemak dipahami sebagai sesuatu yang tersimpan dalam jumlah banyak. Mayoritas menumpuk lemak meskipun sebenarnya tidak butuh. Lemak-lemak inilah yang akan menghambat kemajuan kita. 
Hakikatnya, lemak memiliki banyak fungsi. Manusia membutuhkan lemak sebagai cadangan energi, mengatasi kedinginan, menyerap vitamin, dan lain-lain. Namun, lemak yang telah menumpuk pada tubuh juga akan memicu berbagai macam penyakit degeneratif, seperti jantung, stroke, kolesterol, dan sebagainya. 
Lemak hadir tak hanya pada tubuh manusia, akan tetapi juga pada kehidupan. Lemak ini mampu menutupi sesuatu yang penting, sehingga kebanyakan manusia membuang-buang tenaga untuk sesuatu yang tidak begitu penting. Dalam artian lain, manusia menyukai hal yang sebenarnya buruk baginya dan membenci hal yang sebenarnya baik baginya. Itulah mengapa manusia belum mencapai suatu tingkat keberhasilan yang hakiki. 
Allah berfirman dalam Q.S. al-Baqarah ayat 216, 
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
Artinya: "Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."
Salah satu contoh kecil, banyak manusia yang membeli sesuatu tidak sesuai dengan kebutuhannya. Sedikit demi sedikit, lama lama akan menumpuk. Mengapa hal ini dapat terjadi? karena adanya unsur persuasif dari sebuah iklan dan tingginya rasa gengsi, sehingga barang-barang yang telah dibeli menumpuk seperti lemam yang tidak dibutuhkan. 
Selain pada tubuh dan pembelian barang dengan harta, lemak juga menumpuk pada sistem politik. Akibatnya, banyak fungsi politik yang terhambat. Ini merupakan salah satu faktor keterbelakangan bangsa Indonesia dengan segala kekayaan sumber daya manusia dan sumber daya alamnya. Faktor lain yang mendukung adalah sumber daya manusia yang kurang berkualitas, sehingga tidak mampu mengelola sumber daya alam dengan baik dan benar. 
Dalam hal ini, lemak dilatarbelakangi oleh tradisi. Tradisi sangat penting dalam hidup bermasyarakat. Dengan tradisi, hidup akan terarah sesuai dengan nilai-nilai masyarakat. Akan tetapi, tak jarang pula tradisi menjadi penghambat kita untuk mengubah paradigma lama agar mampu menyelesaikan berbagai variasi masalah dalam kehidupan. 
Pada tingkatan politik, lemak berwujud sebagai birokrasi yang tidak efisien dengan aturan-aturan yang banyak, namun pada akhirnya menghalangi kemajuan bangsa. Jika seseorang ingin mendirikan perusahaan, ia harus mengelilingi kantor-kantor pemerintah untuk menyuap. Untuk ekspor, ia juga harus melewati beberapa pihak. Akan tetapi, sebagian yang lain tidak memerlukan hal itu, cukup disuap saja. Suap menyuap dapat diartikan sebagai penipuan. Sebagian dari mereka menggunakan dalil "segala perbuatan yang dilakukan bergantung pada niat". Penipuan ini berbasis korupsi yang mampu melanggengkan kemiskinan dan kesenjangan sosial. Dampak dari semua ini adalah adanya sebuah kekerasan dan fundamentalisme. 
Begitupun dengan agama. Banyak elite agama yang membungkus dirinya dengan jubah dan sorbannya untuk menjual nilai-nilai ajaran islam. Segala bentuk kesalehan yang diwujudkan dengan rajib beribadah dikeramatkan. Akhirnya, perkembangan iman dan paradigma masyarakat terhambat. 



Wallahu a'lam bi al-


Komentar

Postingan populer dari blog ini

3 Istilah Manusia Dalam al-Qur'an: Basyar, Nas, Insan

Asal Usul Munculnya Budaya Feodalisme di Pesantren

Sempurnakan Kesehatan dengan Peduli kepada Kesehatan Mental