Kehidupan macam apa?
Dahulu pada zaman Rasulullah, perbudakan terjadi dimana-mana dab tak terkecuali tua, muda, atau balita. Perbudakan pada masa itu memang tidak diharamkan oleh islam. Akan tetapi islam islam memiliki sebuah metode yang bersifat revolusioner dalam menghapus sistem perbudakan ini.
Beberapa ayat al-Qur'an telah menjelaskan secara tegas, salah satunya yaitu Q.S. al-Baqarah ayat 30 yang mencantumkan bahwa Allah akan menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi.
Pada awal masuk islam, islam telah membela apra budak dengan memberikan upah jika ia taat kepada tuannya. Hal ini diperkuat oleh hadits Nabi dari Abu Musa Al-Asy'ari "
Islam-digest Khazanah
Dalil Alquran dan Hadits Penghapusan Perbudakan dalam Islam
Islam menghapuskan perbudakan secara bertahap.
Selasa , 28 Apr 2020, 05:20 WIB
Islam menghapuskan perbudakan secara bertahap. Perbudakan zaman jahiliyah (ilustrasi).
crethiplethi.com
Islam menghapuskan perbudakan secara bertahap. Perbudakan zaman jahiliyah (ilustrasi).
Rep: Ali Yusuf Red: Nashih Nashrullah
REPUBLIKA.CO.ID, Sistem perbudakan telah berlaku jauh sebelum Islam datang. Setelah Islam hadir secara bertahap sistem yang merendahkan derajat manusia sampai level terendah itu dihapuskan.
Baca Juga
Apotek, Buah Karya Peradaban Islam atau Barat?
Islam Mempersempit Ruang Perbudakan
Pandangan Islam tentang Lagu dan Musik
"Jika kita berlaku jujur bahwa metode yang paling bijaksana dalam memecahkan problem perbudakan adalah Islam," kata Hanif Luthfi, Lc, MA seperti disampaikan dalam bukunya "Budak dalam Literatur Fiqih Klasik".
Pada awal kemunculannya, Islam memang tidak mengharamkan sistem perbudakan. Namun, kata Hanif dalam memecahkan persoalan yang terkait dengan perbudakan ini, Islam menggunakan metode tidak secara revolusioner melainkan secara evolusi atau bertahap.
Hal itu kata Hanif, bisa dilihat misalnya, beberapa ayat Alquran telah mencantumkan baik secara tegas maupun secara tersirat tentang berbagai upaya untuk menghapus perbudakan.
Bahkan Hanif menegaskan jika ayat-ayat itu dirangkai dalam satu kesatuan yang utuh, maka akan tampak bahwa Islam sangat menghendaki hapusnya perbudakan baik, dalam arti sempit atau harfiah maupun dalam arti luas atau kontekstual.
"Jika kita lihat lagi kapan dan di mana Islam muncul pertama, kita patutnya bangga bahwa Islam sudah memulai meyadarkan manusia bahwa derajat manusia itu sama," katanya.
Karena pada hakikatnya asal dari manusia itu adalah merdeka dan hal ini kata Hanif ditegaskan Alquran surat Al Baqarah ayat 30 yang artinya:
"Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi."
Hanif menambahkan, dalam ayat lain, tepatnya surat Al Israa ayat 70 manusia telah mendapatkan kemuliaan di antara para makhluk yang telah Allah ciptakan bertebaran di muka bumi.
"Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan."
Pada awal-awal kemunculan Islam di tengah peradaban Mesir Kuno, Babilonia, Hittit, Yunani Kuno, Kanaan, Israel, Persia, Kushit, dan lain-lain, Islam telah berlaku ramah dan membela budak dengan memberikan pahala jika budak taat kepada tuannya.
"Seorang budak yang ikhlas dalam melaksanakan tugasnya sebagai budak dan berbakti kepada tuannya maka ia mendapat pahala yang besar, dua kali lipat," katanya.
Hal ini seperti hadits Rasulullah dari Abu Musa Al Asy’ari RA bahwa Nabi Muhammad bersabda: "Tiga kelompok yang akan diberikan pahala mereka dua kali pertama laki-laki ahli kitab yang beriman kepada Nabinya lalu berjumpa dengan Nabi SAW, kemudian dia beriman kepada beliau, mengikutinya dan membenarkannya, maka dia memperoleh dua pahala. Kedua seorang budak yang melaksanakan hak Allah dan hak tuannya, maka dia memperoleh dua pahala. Dan ketiga seorang laki-laki yang mempunyai budak wanita, lalu ia memberi makanan, pendidikan, dan pelajaran yang baik, kemudian ia membebaskan dan menikahinya, maka ia memperoleh dua pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Salah satu cara islam membela budak yaitu dengan adanya larangan memanggil dengan panggilan buruk dan melecehkannya. Bahkan nabi menjadikan Zaid bin Haritsah, budaknya sebagai anak angkat.
Perlahan, perbudakan tersebut hilang. Akan tetapi, pada era saat ini muncul istilah baru, bukan perbudakan melainkan mentalitas budak. Istilah tersebut muncul karena banyak pejabat yang menggunakan demokrasi tanpa kearifan, kedewasaan, dan kecerdasan yang tidak rasional. Hal tersebut mengakibatkan terjadinya suatu pemaksaan kehendak yang berkedok kebebasan berpendapat. Mentalitas ini dimiliki oleh masyarakat awam yang taat buta, suka cari aman, tetapi bersikap menjilat keuangan. Salah satu kasus adalah seorang penceramah yang berkedok ulama'. Ia selalu melakukan ceramah-ceramah massal yang sebenarnya tidak bermutu dan tidak dapat dipertanggungjawabkan referensinya. Mengapa penulis menyebut penceramah sebagai contoh?, karena mayoritas penceramah yang sebenarnya bukan ulama itu bersikap menjilat keuangan umatnya, ia tak akan pernah mau mengisi ceramah jika tidak ada amplopnya. Selain itu, penceramah juga suka mencari aman dengan menggunakan dalil-dalil yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, dan selalu menipu umat.
Mentalitas budak telah gagal dalam menangkap pesan-pesan kebijakan. Mereka tidak mau mengoreksi diri dan mengakui kesalahan, justru malah semakin berlomba-lomba menutupi kesalahan dengan retorika dan isu-isu belaka.
Untuk itu, diperlukan sebuah revolusi yanh dapat mengubah kehidupan yang taat buta menjadi kritis, aktif, dinamis, dan terarah. Seyogyanya, pemerintah dan keagamaan turut andil dalam pembentukan karakter demikian, bukan malah melanggengkan mentalitas budak sebagai penyakit.
Komentar
Posting Komentar