Alam Harus Segera Dialamikan Kembali

Era sekarang ini sungguh jauh dari alam. Kita sangat asing dengan tanaman dan hewan. Padahal, keduanya merupakan sumber hidup bagi kita. Tanpa mereka, kita tak akan mampu bertahan hidup. Namun, yang terjadi sekarang malah hidupb kita semakin tak alami. Kita hidup disekeliling beton dan besi dan merasa jijik dengan hewan. Kita semakin asing dengan istilah alam, sehingga sebagian dari kita menghancurkan alam. Sumber daya alam yang tersedia kita keruk demi keuntungan. Salah satunya hutan, hancurnya hutan akan menghancurkan binatang setempat. Kehidupannya terancam punah. Singer mengungkapkan bahwa hampir setiap saat, pasti ada salah satu jenis binatang yang punah dari bumi. Tak hanya punahnya hewan, bencana alam pun terjadi dimana-mana. Secara tidak langsung, perbuatan kita yang semacam itu merusak alam kita sendiri. Berbagai alasan yang diucapkan malah tidak rasional. Semuanya dilakukan sesuai kehendak manusia, bukan sesuai kebutuhannya. 
Kebanyakan orang menganggap bahwa ilmu pengetahuan telah menyelamatkan bumi. Ia telah memfasilitasi kita dalam hidup. Ia mampu mengembangkan berbagai jenis obat-obatan untuk beragam penyakit. Tapi, apalah artinya jika ribuan bahkan jutaan hewan menjadi korban?  Apakah kebahagiaan kita diukur dari keberhasilan kita dalam mencapai sesuatu, sehingga tidak peduli terhadap hewan dan tumbuhan? Bukankah dengan hancurnya keduanya juga akan menghancurkan kita? Lantas, apa dasar dan motivasi dari segala perbuatan ini? Mungkin, manusia saat ini sama dengan ungkapan Heidegger, bahwa manusia tidak mempunyai keinginan untuk berbuat jahat, tetapi hanya tidak berfikir sebelum bertindak. 
Mereka hanya mampu berfikir dalam jangka waktu pendek dan tidak melihat dari sudut pandang yang berbeda. Bukannya tidak mampu, akan tetapi karena tingkat kemalasan untuk berpikir yang tinggi sehingga memicu terjadinya kebodohan massal. Manusia bisa cerdas secara intelektual, tapi entah kenapa mereka amat bodoh dalam perilakunya. 
Ilmu dan adab memang tak bisa dipisahkan. Tidak bisa dianalogkan dengan sesuatu yang dapat dibandingkan tingkat keutamaannya. Pada dasarnya, mereka bodoh bukan karena apa-apa, hanya saja pada cara berfikir dan dasar ilmu pengetahuan terkait suatu hal yang mereka miliki. 
Sejak zaman Aristoteles, ilmu pengetahuan digunakan sebagai dasar untuk memahami sesuatu. Kemudian dilengkapi dengan cara berfikir, namun kebanyakan manusia kehilangan cara memandang secara keseluruhan. Sehingga mereka hanya memahami sesuatu dalam bidang tertentu, tetapi buta akan memandang secara menyeluruhnya. 
Inilah sebab mengapa para ahli pangan tak paham faktor penyebab naiknya harga beras setiap tahun. Ahli biologi mampu menjalin kerja sama dengan perusahaan yang ingin merusak hutan untuk sebuah pabrik, dan ahli kimia mampu disuap untuk sebuah penelitian yang mampu menipu umat. Mereka inilah orang-orang cerdas dan sekaligus buta dan bodoh. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

3 Istilah Manusia Dalam al-Qur'an: Basyar, Nas, Insan

Asal Usul Munculnya Budaya Feodalisme di Pesantren

Sempurnakan Kesehatan dengan Peduli kepada Kesehatan Mental