Cegah KEK yukk!!
Salah satu masalah yang terjadi di Indonesia adalah Kekurangan Energi Kronik (KEK). KEK merupakan suatu kondisi ketika seorang wanita mengalami kekurangan gizi kronis yang dapat mengganggu kesehatan. Resiko KEK tertinggi dialami oleh anak-anak dan Wanita Usia Subur (WUS). KEK kini menjadi pusat perhatian pemerintah dan tenaga kesehatan (Nakes) , karena jika wanita mengalami KEK maka akan berpotensi melahirkan anak yang akan mengalami KEK di kemudian hari. Selain itu, kekurangan gizi dapat menimbulkan beberapa masalah kesehatan mortalitas, morbiditas, dan disabilitas yang akan menurunkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM).
Seseorang yang sering mengalami KEK yaitu Wanita Usia Subur (WUS). WUS adalah wanita yang sedang mengalami kematangan organ reproduksi dan organ tersebut berfungsi dengan baik. Rentang usia WUS yaitu 15-49 tahun yang terdiri atas remaja putri, pekerja perempuan, calon pengantin, ibu hamil, dan ibu nifas. KEK menggambarkan kondisi tidak adekuatnya asupan energi dan protein. Indikator yang dapat digunakan untuk mendeteksi KEK dan status gizi pada WUS adalah pengukuran antropometri melalui pengukuran Lingkar Lengan Atas (LiLA). Pengukuran LiLA dilakukan pada lengan tangan yang jarang digunakan untuk beraktifitas berat. Nilai ambang batas yang digunakan di Indonesia yaitu 23,5 cm.
Beberapa faktor yang mempengaruhi KEK diantaranya yaitu faktor ekonomi, pendidikan, umur, dan pekerjaan. Faktor-faktor tersebut berpengaruh 80% terhadap KEK, karena jika ekonomi terhambat maka Sang Ibu tidak akan mendapatkan asupan nutrisi yang cukup. Sedangkan makanan dengan nilai gizi tinggi tak jauh dengan harga yang tinggi pula. WUS sangat terancam oleh KEK apabila tak didukung dengan ekonomi dan pendidikan. Mayoritas orang menganggap bahwa ketika makan tak perlu memperhatikan nilai gizi, makan dalam jumlah banyak dirasa sudah cukup. Anggapan tersebut salah kaprah, maka diperlukan edukasi secara intensif.
Ketidakseimbangan asupan gizi dapat disebabkan oleh pola makan yang tidak sesuai dengan kebutuhan individu per hari, sehingga berdampak pada status gizi kurang ketika masa kehamilan. Kebutuhan asupan nutrisi setiap individu mengacu pada Angka Kecukupan Gizi (AKG). Asupan makanan dapat diindikasikan kurang apabila tidak memenuhi standar AKG. Keberlangsungan konsumsi makanan tak sesuai standar dalam jangka waktu yang lama dapat mengakibatkan WUS berpotensi mengalami resiko KEK. Berbeda hal nya dengan WUS yang telah memenuhi asupan makanan berdasarkan standar AKG namun masih mengalami KEK. Kondisi tersebut dapat diindikasikan bahwa makanan yang dikonsumsi tidak memenuhi kebutuhan tubuh secara kualitas dan kuantitas.
Jenjang pendidikan yang ditempuh WUS juga mempengaruhi risiko KEK. Rendahnya pengetahuan tentang pentingnya ilmu gizi sangat berdampak bagi generasi masa depan. Generasi berkualitas ditentukan oleh asupan makanan yang bernutrisi, karena makanan tersebut memiliki kandungan yang berperan dalam organ-organ tubuh. Terjadinya masalah gizi bukanlah hal yang asing lagi, namun hingga sekarang belum ditemukan solusi yang tepat meskipun ahli gizi sudah memberikan edukasi. Pemberian edukasi tak cukup untuk memperbaiki status gizi seseorang, sebab terdapat faktor genetik yang lebih dominan.
Di Indonesia, prevalensi masalah gizi terus meningkat. Dimulai dari Kekurangan Energi Kronik, Berat Bayi Lahir Rendah, Stunting, dan lain-lain. Perguruan tinggi tak hanya didukung oleh sistem pendidikan, namun juga harus disertai dengan pendidik yang berkualitas. Kualitas seorang pendidik sangat berpengaruh terhadap peserta didik. Kebanyakan dari pendidik hanya memberikan teori tanpa melakukan praktik, padahal satu kali praktik lebih baik dibandingkan 1000 teori. Kebanyakan dari Ibu hamil yang mengalami KEK memiliki jenjang pendidikan yang rendah.
Komentar
Posting Komentar